Reformasi mencari tokoh?
September bulan ini, bulan tragedi; bulan ini, bulan reformasi. Cuacanya yang mendingin mengundang rasa cinta dan rindu. Kebelakangan ini, Kuala Lumpur tempat saya merempat sering hujan pada sebelah petang. Jadi saya pun tidak banyak berbuat apa-apa.
Langsung di satu petang, saya membelek timbunan majalah lama dan terjumpa bahan yang mungkin boleh kita timbang-timbangkan bersama majalah Tempo bilangan 46, dengan fokus muka depan 'Hukuman buat demonstran'. Sebuah tulisan pada halaman 33 menarik pengamatan saya. Penulis terkenal Goenawan Mohamad melalui kolum popularnya 'Catatan Pinggir' menulis 'Tokoh'.
Tulisan ini cukup mencerahkan suasana muram gerakan reformasi di Malaysia. Ia dirangka dalam latar dan suasana menyempitnya ruang demokrasi di Indonesia, di kala demonstrasi tidak menjadi suatu trend dan bertambahnya angka penahanan aktivis gerakan prodemokrasi dan reformasi.
Pandangan ini diterbitkan dalam Tempo keluaran 15 Januari 1994, beberapa bulan sebelum majalah itu sendiri, bersama tiga lagi penerbitan lain dilarang penerbitannya.
Dalam 'Tokoh', Goenawan mencatatkan, "tapi anak-anak muda yang paling resah hari ini mencari tokoh dari puing-puing dari pelbagai macam puing. Indonesia, yang dalam sejarahnya yang keras, cukup banyak menyaksikan penggusuran dan penghancuran, adalah sebuah lingkungan yang peka untuk impian semacam itu."
Seterusnya dia mengandaikan rupa bentuk serta harapan yang muncul dalam suasana semacam itu: "Maka, pahlawan bagi mereka adalah orang-orang yang robek berdiri terus dari reruntuhan, dengan otot liat, perut kencang, kaki kukuh (meskipun luka)."
Langsung di satu petang, saya membelek timbunan majalah lama dan terjumpa bahan yang mungkin boleh kita timbang-timbangkan bersama majalah Tempo bilangan 46, dengan fokus muka depan 'Hukuman buat demonstran'. Sebuah tulisan pada halaman 33 menarik pengamatan saya. Penulis terkenal Goenawan Mohamad melalui kolum popularnya 'Catatan Pinggir' menulis 'Tokoh'.
Tulisan ini cukup mencerahkan suasana muram gerakan reformasi di Malaysia. Ia dirangka dalam latar dan suasana menyempitnya ruang demokrasi di Indonesia, di kala demonstrasi tidak menjadi suatu trend dan bertambahnya angka penahanan aktivis gerakan prodemokrasi dan reformasi.
Pandangan ini diterbitkan dalam Tempo keluaran 15 Januari 1994, beberapa bulan sebelum majalah itu sendiri, bersama tiga lagi penerbitan lain dilarang penerbitannya.
Dalam 'Tokoh', Goenawan mencatatkan, "tapi anak-anak muda yang paling resah hari ini mencari tokoh dari puing-puing dari pelbagai macam puing. Indonesia, yang dalam sejarahnya yang keras, cukup banyak menyaksikan penggusuran dan penghancuran, adalah sebuah lingkungan yang peka untuk impian semacam itu."
Seterusnya dia mengandaikan rupa bentuk serta harapan yang muncul dalam suasana semacam itu: "Maka, pahlawan bagi mereka adalah orang-orang yang robek berdiri terus dari reruntuhan, dengan otot liat, perut kencang, kaki kukuh (meskipun luka)."
Gangguan fikiran
Tulisan ini memberitahu saya, setiap yang disebut tokoh itu punya latar kejaguhan dan keperwiraan tersendiri. Anwar Ibrahim, di luar sejarah Umnonya, dikenal sebagai tokoh muda berpelajaran yang membela kemiskinan petani di Baling. Keperkasaannya menggagah waktu memimpin gerakan mahasiswa dan belia 70-an.
Justeru itu, setelah dia dipecat pada 2 September 1998, imej dan ketokohan lama itu bermain kembali. Kenangan lama bergolak lagi. Suatu pemandangan yang 'retro' sifatnya. Kemudian, ia menjadi 'motor' untuk melancarkan gerakan reformasi dengan kemuncak demonstrasi raksasa pada 20 September tahun yang sama.
Imej itu langsung mengalirkan harapan perubahan yang mungkin terhasil daripada gangguan fikiran atau keterkejutan atau orgasme terhadap politik Malaysia yang telah sekian lama bosan itu.
Satu ledakan yang menyeret ramai ke dalam kancah politik dengan segala keperitannya yang pelik-pelik, walau saya sendiri buta akan implikasinya waktu itu. Goncangan peristiwa Anwar dan reformasinya menjadi suatu euphoria, anugerah kegembiraan yang tiba-tiba bernyawa, bawaan seorang tokoh.
Kemudian, apabila Anwar ditangkap, didakwa dan dipenjarakan, muncul pula tokoh-tokoh lain, Tian Chua misalnya, sebagai seorang tokoh mengajarkan makna keberanian. Pasti kita belum lagi lupa pada sebuah foto yang menunjukkan dia duduk menahan pancutan meriam air FRU, persis foto seorang mahasiswa prodemokrasi China yang menahan kereta kebal di dataran Tiananmen, Beijing pada 1989.
Maka ramai orang tiba-tiba menyebut-nyebut keperwiraan Mohd Ezam Mohd Nor, Saari Sungib, Lokman Noor Adam, Hishamuddin Rais, Abdul Malek Hussein, Dr Badrulamin Baharon dan beberapa lagi. Semua ketokohan itu dikaut daripada penglibatan mereka dengan gerakan demonstrasi jalanan aksi berani melawan kerajaan yang jarang-jarang muncul di sini.
Cuaca politik dunia
Tapi setelah tokoh-tokoh ini ditangkap bermula petang 14 April tahun lalu, Gerakan Reformasi jadi senyap. dingin dan tidak berghairah. Siri-siri demonstrasi jalanan kurang sambutannya.
Kedinginan itu juga dikaitkan dengan cuaca politik dunia kesan peristiwa 11 September. Peristiwa serangan Pusat Dagangan Dunia (WTC) dikatakan membalik arus gerakan pendemokrasian jauh ke belakang.
Sokongan luar negeri tidak begitu baik. Malah, kita juga diberitahu, misalnya sikap pentadbiran Amerika Syarikat yang terang-terangan kurang peduli pada isu-isu hak asasi manusia dan demokrasi.
Ada pula yang berkata politik penindasan pemerintah Akta Keselamatan Dalam Negeri (ISA) dan segala yang serupa telah mematahkan tulang-tulang gerakan reformasi hingga lumpuh. Manakala ada pula yang menyatakan gerakan ini telah kehilangan tokohnya.
Maka itulah yang memungkinkan seorang teman aktivis reformasi menyimpulkan, "kita perlu mencari tokoh, gerakan memerlukan kepimpinan", cuba menjelaskan kepada saya mengapa Gerakan Reformasi seolah-olahnya diam sepi (atau hampir mati).
" tetapi tidakkah sebenarnya hasrat mencari seorang tokoh untuk dikagumi siang dan malam itu termasuk dalam bagian hasrat mencari kisah fantasi?" tanya Goenawan dalam kolum popularnya itu.
Demonstrasi jalanan
" dalam keadaan yang tidak terbiasa dengan kritik, dan rasa rikuh (canggung) dan bahkan rasa ketakutan bersuara masih kuat, siapa bisa menjamin bahwa sebuah pujian untuk seorang tokoh adalah pujian yang tulus bukan penjilatan, bukan jalan mencari keselamatan dan kedudukan?"
Di sini ada perkara yang perlu kita fikirkan dalam sedu-sedan, rindu dendam dan manis pahit yang terbawa-bawa daripada letusan berahi ingatan demonstrasi jalanan sepanjang Gerakan Reformasi, sepanjang empat tahun lalu.
Siri-siri demonstrasi 20 September, 14 April, isu keracunan arsenik dan Lebuhraya Kesas, imbasan babak-babak di jalan-jalan raya, pekikan slogan, laungan pidato, gema sorakan, nyanyian atau doa puja-puji tuhan dan rakyat berarak ribuan jumlahnya.
Kemudian ada ibu dan anak kecil, perempuan-perempuan tua dan muda, lelaki atau bukan lelaki, perempuan atau bukan perempuan &38212 semua mereka bergerak dengan amarah penuh perasaan.
Di satu sisi lain pula ada meriam air, trak-trak FRU, polis berpakaian seragam atau biasa, cawangan khas (SB) dan Pasukan Gerak Am. Langsung ada pertempuran, keringat dan mata yang pedih. Luka dan tangisan. Mahkamah tiba-tiba bertukar wajahnya menjadi kedai kopi yang menemukan massa pengikut, aktivis dan para tokoh pimpinan.
Seperti ditulis Goenawan, "Saya memang tak tahu, masih bisakah kita punya tokoh. Saya juga tak tahu masih perlukah kita mencari tokoh?"
Dulang hidayah
Nampaknya, Gerakan Reformasi dalam bentuk demonstrasi jalanan mungkin tinggal asap nipis. Tetapi itu bukanlah alasan untuk memilih jalan mati, lalu berhenti atau tidak kembali lagi ke medan tempur. Biarpun tanpa tokoh kerana ia sering menjadi masalah bila aktivis atau massa yang ikut dalam gerakan berharap tokoh-tokoh mereka membawa dulang hidayah dan petunjuk.
Atau aktivis dan massa pengikut itu telah berpuas hati dan berasa cukup dengan segala sokongan keputusan, tindak-tanduk serta strategi pimpinan tokoh itu. Menurut Goenawan, perjuangan masa lalu dan para tokohnya bukanlah ukuran kepada segala-galanya.
"Terkadang pahlawan-pahlawan yang bangkit dari reruntuhan, dari penjara, dari kekalahan politik, dari keterdesakan kekuasaan, akhirnya juga tidak bebas dari sindrom jagoan tua: punya penyakit ego bengkak, merasa tergolong juwara abadi," sambungnya.
Mungkin sebab itulah, agaknya kita perlu mengira dan berfikir kepada watak zaman yang berkembang dan langsung cuba mengambil yang jernih dan membuang yang keruh.
"Barangkali yang lebih penting adalah berbicara tentang tindakan-tindakan tauladan, ketimbang berbicara tentang orang-orang tauladan yang cuma kita kenal dari jauh, nun di atas sana, disinari oleh cahaya publisitas yang cerlang-cemerlang," coret Goenawan mengakhiri Catatan Pinggir.
Meskipun begitu, September tahun ini tidak ada demonstrasi besar, atau dalam masa terdekat ia tidak mungkin ada. Tapi ia mengajar saya, tokoh bukanlah hal utama kerana arah ditentukan oleh setiap peribadi itu sendiri. Meskipun, antara masing-masing itu berbeza selera, berlainan aroma rasa, saling berlawanan dan ingin menewaskan antara satu dengan lainnya.
RAHMAT HARON sekarang bertugas sebagai wartawan di RadiQRadio sebuah program berita radio independen Malaysia. Dia turut bergiat di Universiti Bangsar Utama (UBU), sebuah kumpulan anak-anak muda progresif-demokratik, dengan cita-cita reformasi untuk sebuah Malaysia baru yang bersih dan jernih dari segala macam kecelaruan politik lama.

